* Proses kreatif bukan mutlak keinginan sendiri
tetapi bisa juga atas ‘desakan’ pihak lain.
Tulis saja jangan berdalih.
Saya sering diminta sebagai pemakalah, apakah untuk seminar, pelatihan, lokakarya atau apa pun namanya. Adakalanya membuat 4 (empat) makalah dalam sebulan. Tentu saja pekerjaan tersebut menyita waktu.
Bak kata bijak, kalau ‘terdesak’ ada saja ide mengatasinya. Suatu kali, Dinas Pendidikan Nasional Kota meminta saya sebagai pemakalah. Karena waktu saya terbatas, muncul ide menulisnya di media cetak bukan sebagaimana makalah konvensional.
Kalau makalah dimediacetakkan tentu harus mengikuti ‘aturan’ media massa. Tulisan dibuat padat tanpa aturan referensi, bahasa yang lebih populer agar dapat menjangkau publik, bukan untuk kalangan tertentu saja. Susah juga sebenarnya mengingat sejak mahasiswa belajar membuat makalah dengan pakem tertentu. Ide tersebut juga didorong pemikiran, kalau dimuat di surat kabar lebih praktis, tidak mengeluarkan biaya banyak untuk menggandakan dan berbagai keuntungan lainnya.
Ternyata ‘gaya’ tersebut disambut baik panitia dan peserta. Sejak itu, kalau diminta sebagai pemakalah saya memuatnya di media cetak, kecuali untuk hal yang sangat khusus. Menurut saya, cara tersebut sangat efektif untuk publik yang lebih luas.
Yang ingin saya sampaikan pada Sampeyan, dalam menulis faktor pemicunya bermacam-macam. Prinsipnya menulis. Kalau selama ini menulis dengan cara konvensional, ya dibaca kalangan terbatas, kini lebih luas. Dengan demikian responnya juga lebih luas. Rupanya cara tersebut berakibat makin sering ditanggap dan tulisan saya makin sering dimuat media cetak.
Dengan kata lain, menulis makalah adalah jalan menulis. Kreatifitas menulis, bukan mutlak keinginan sendiri tetapi bisa juga atas permintaan pihak lain. Makin sering diminta menulis makalah disandingkan dengan keinginan sendiri, makin menyuburkan tulisan. Dan, … makin hari menulis itu akan semakin menjadi ‘sangat mudah’. Belive it or not.
0 Responses to “3.9 Menulis Makalah”